Membaca posisi diri berarti melihat dari tempat mana sebuah keputusan hendak dilahirkan. Pembacaan ini tidak menjamin hasil selalu sesuai harapan, tetapi membantu seseorang mengetahui dasar pilihannya dan bersedia menanggung akibat yang dapat diperkirakan.

Rasa mendesak bukan bukti bahwa arah sudah jelas.

Dalam keadaan tertekan, pikiran cenderung menyempit pada kebutuhan paling dekat: menghentikan konflik, memperoleh kepastian, menghindari rasa malu, mempertahankan hubungan, atau melepaskan beban. Kebutuhan tersebut nyata, tetapi belum tentu cukup menjadi dasar keputusan.

Kelegaan sesaat juga tidak selalu menunjukkan bahwa keputusan itu tepat. Seseorang dapat merasa lega karena berhasil menghindari percakapan yang sulit, padahal persoalan utamanya belum disentuh. Sebaliknya, keputusan yang cukup bertanggung jawab dapat tetap menimbulkan rasa tidak nyaman karena ada akibat yang memang harus dihadapi.

Lima bagian yang perlu dibedakan.

  1. Fakta yang tersedia.

    Apa yang benar-benar terjadi dan dapat diperiksa? Siapa mengatakan atau melakukan apa? Kapan, di mana, dan dalam keadaan bagaimana?

  2. Bagian yang belum diketahui.

    Informasi apa yang masih berupa dugaan? Apakah keputusan dapat ditunda sampai bagian penting ini diperiksa?

  3. Respons batin yang aktif.

    Rasa, ketakutan, keinginan, kebutuhan, pengalaman lama, atau kepentingan apa yang sedang ikut menentukan cara melihat?

  4. Nilai dan kapasitas.

    Apa yang perlu dijaga? Apakah waktu, tenaga, kemampuan, dukungan, dan sumber daya yang dibutuhkan benar-benar tersedia?

  5. Akibat dan tanggung jawab.

    Siapa yang menerima akibatnya? Akibat mana yang dapat diperbaiki, dan mana yang sulit ditarik kembali?

Hubungannya dengan Tri-Tapak.

Atensi bekerja ketika fakta dan bagian yang belum diketahui dibedakan. Koneksi bekerja ketika respons batin diakui tanpa dijadikan satu-satunya kebenaran. Intensi bekerja ketika nilai, kapasitas, dan akibat dipertimbangkan untuk menetapkan arah.

Ini tidak berarti seluruh keadaan harus dianalisis tanpa batas. Pembacaan yang tertib justru membantu menemukan bagian mana yang menentukan dan bagian mana yang hanya menambah kebisingan. Dalam keadaan darurat, keselamatan dapat menuntut tindakan segera. Setelah keadaan aman, pembacaan yang lebih lengkap tetap dapat dilakukan.

Keputusan yang jernih bukan keputusan tanpa risiko.

Ia adalah keputusan yang dibuat dengan fakta yang cukup, nilai yang diketahui, kapasitas yang dibaca, dan kesediaan menanggung akibat yang dapat diperkirakan.

Latihan pembacaan singkat.

Ambil satu keputusan yang sedang dipertimbangkan. Buat lima bagian pada selembar kertas: fakta, yang belum diketahui, respons batin, kapasitas, dan akibat. Isilah tanpa terburu-buru menyusun kesimpulan. Setelah itu, periksa apakah arah yang semula diinginkan masih berdiri pada dasar yang sama.

Bila jawaban berubah, perubahan itu tidak otomatis berarti pilihan baru pasti benar. Ia hanya menunjukkan bahwa posisi membaca telah berubah. Bila tekanan tetap tinggi atau pertimbangan penting belum tersedia, menunda keputusan dapat menjadi tindakan yang lebih bertanggung jawab, sepanjang penundaan tersebut tidak menambah bahaya atau mengabaikan kewajiban yang mendesak.

Pertanyaan Pembacaan

Apakah keputusan yang sedang Anda pertimbangkan lahir dari arah yang telah cukup diperiksa, atau terutama dari keinginan untuk segera terbebas dari tekanan?